Digital Terrestrial Receiver

Terrestrial DVB Sebuah alat penerima Audio & Video yang berasal dari station digital video broadcasting transmiter. Receiver ini berbeda sekali dengan receiver yang ada dipasaran mengingat DVB ini hanya menerima signal yang bersumber dari antena VHF/UHF, Jadi tak lagi memerlukan Antena Parabola serta LNB. Secara tehnis untuk saat ini semua station TV Indonesia mungkin belum menggunakan jaringan semacam ini, tetapi di negara maju lainya receiver ini sudah sangat pesat sekali perkembanganya.

Spesificasition :

  • RF input connector        :Female
  • RF output connector     : Male
  • RF frequency range       : VHF III 177.5 –  227.5 MHz                                        UHF IV,V  474 – 858 MHz
  • Input impedence           : 75 ohm Unbalanced
  • Input signal  level         : -78 dBm to 20 dBm
  • If frequency                  : 36.167 Mhz
  • Transport stream          : MPEG-2
  • Video resolution           : 720 x 576
  • Audio decoding            : MPEG layer I & II
  • CPU                              :  STi 5518
  • Flash memory              :  2 Mbytes
  • SDRAM                         :  4 Mbytes

17 Responses to Digital Terrestrial Receiver

  1. dewie says:

    Bisa Pesen dimana Ya ??????

  2. msj says:

    Harganya berkisar brapa?

  3. Prosat says:

    To.Dewie Boleh pesan ke saya kok dan harganya sekitar Rp 450 ribu, tapi apakah di Indonesia belum ada…?!

  4. hardi says:

    mas prosat, di indonesia alat itu sdh bisa dipakai, di Jakarta (RCTI) sudah melakukan uji coba, serta kalo di pakai di batam, bisa utk mengangkat siaran s’pore (TV5). Sy sgt setuju dg topik ini, karena akan meningkatkan kemampuan kita ttg tv, yg mana nantinya mau tak mau kita akan memasuki dunia ini (spt parabola analog ke digital). Sy saran juga angkat masalah TV cable digital seperti yg telah berkembang belakanyan ini. Dan sy juga ucapkan selamat utk sub blog “problem tv cable” yg mencapai lebih dari 134 responding dlm 1 bulan

  5. Prosat says:

    Terima kasih atas informasinya Mas Hardi, yang jelas blog ini tak akan hidup jika tak ada profil seperti mas Hardi dan CS nya harapan saya jika mas hardi punya waktu senggang dan punya ide atau treath baru mohon dikirim ke email saya diatas untuk diposting agar saudara2 kita yang lain bisa saling tukar pengalaman dan belajar.

    Best Regards,
    Prosat

  6. ADI says:

    DARI BANYAK ORANG KATANYA UNTUK BUAT TV CABLE MUDAH DENGAN 1 REVEIVER TRUS DI SITUKAN ADA UNTUK ANTENA PAKE AJA BOOSTER ANTENA TV KITA TINGGAL ACAK AUTO AJA DI TELEVISI LANGSUNG DAPAT GK PERLU LG BELI RECEIVER TAMBAHAN… TP SAYA UDAH COBA TAPI GK BISA ALIAS GAGAL YANG DAPAT CUMAN 1 SIARAN YANG ADA PADA RECEIVER INDUK ( IKUT APA YANG DI AMBIL DI INDUK ) JADI KALAU ADA REKAN-REKAN YANG TAU ALIAS UDAH PERNAH COBA N BERHASIL TOLONG DONG KASIH CONTOH DAN PETUNJUK UNTUK BISA SAYA COBA DI RUMAH SAYA TERIMA KASIH

  7. hardi says:

    BOS, YG BISA JUMLAH CHANELNYA TERGANTUNG JUMLAH RECEIVERNYA, UTK JELASNYA COBA LING KE “PROBLEM TV CABLE”

  8. yuli says:

    bos aq mau tanya
    itu butuh antena luar tdk?
    aq tertarik dengan model ini sebab blm ada di Indonesia
    gmn cara pesannya yhaaaaaaaa
    info ke Email saya dong

  9. herbert g.s says:

    Hh..m,style pertelevisian dan Broadband lndonesia ga tau mau di bandingin sama negara apa biar bisa berimbang,boro-boro terestrial Digital,yg ada aja belum bisa ketangkap merata di daratan indonesia.aku yakin,masih banyak ibukota kabupaten yg ketangkap cm TVRi doang,apa ga terlalu jauh ngomongin terestrial digital ?.karena pada prinsipnya,hal ini akan mirip seperti Tv kabel Pay Per View,bedanya ga pakejaringan.kalau ga mau semua channel yg kita salurkan di ambil gratis ama warga.ya harus ada program keys lagi.ga jauh-jauh lah seperti prinsip kerja Indovision,astro atau yg lainnya,cm mereka via satelit.trus…yg mau kita mainkan apanya ya ??.tolong di kasih pengertian ke saya,apa perkiraan saya salah..

  10. eko_bali says:

    Kalo menurut saya kok tidak seperti itu. Digital TV Terresterial kalo nggak salah sama dengan TV Terresterial Analog cuma yang ini menggunakan signal DIGITAL. Kalo masalah coverage sih sama aja cuma jangan lupa bahwa kalau dalam 1 signal digital dapat membawa bayak saluran TV dll. beda dengan signal analaog yang hanya bisa membawa 1 saluran TV. misal Kota Jakarta, agar masyarakat Jakarta dapat menonton 15 Chanel TV ANALOG maka harus di bangun sebayak 15 unit pemancar ANALOG untuk masing2 stasiun tv. nah dengan teknologi digital cukup dengan 1 Pemancar Digital kita dapat menyaksikan mungkin lebih dari 50 chanel TV (Singapore dengan 2 Saluran dapat 175 Chanel). Jadi dengan DIGITAL kita surplus sebayak 14 unit dan ini dapat digunakan untuk menambah coverage area TV Digital. Untuk Signalnya sama saja dengan Signal Analog jadi antenna dll masih dapat digunakan tinggal tambah setup box dan ada satu lagi untuk TV Digital tidak diperlukan bayak antenna di rumah warga karena signalnya hanya dari satu daerah.

  11. maihardi@yahoo.com says:

    sy setuju dg mas eko, tapi masalah siapa yg mau keluar modal utk system digital. RCTI sj masih uji coba dg 1 chanel. Dan lagi utk siaran digital sinyal harus sempurna, tidak spt analog, walau agak jauh atau arah tidak pas, masih dapat siaran. Lain dg system digital, kalau sinyal kurang pas, atau agak jauh, maka gambar sama sekali tidak bisa di tonton, jadi disini ada tiga hal yg harus dibenahi :
    1. Penerima UHF di rumah harus yg standar
    2. Stasiun pemancah harus ditambah
    3. Peralatan di pemancar harus diganti dg biaya hampir 10x lipat pemancar analog
    Kita tunggu saja . . . .

  12. maihardi@yahoo.com says:

    Dan utk sekarang decoder untuk menangkap siaran UHF digital harganya masih 4x harga decoder FTA antena parabola he he he , mendingan pake parabola saja

  13. semmy says:

    Katanya mo diusulin ke DPR supaya pembuatan STB disubsidi biar ekonomi menengah kebawah bisa beli

  14. eko_bali says:

    Waktu saya menghadiri salah satu pertemuan yang membahas tentang migrasi dari analog to digital tahun lalu, saya mendapat penjelasan dari salah satu pengelola tv digital Singapore bahwa, untuk sebuah STB kalau di kurs ke rupiah itu sekitar 300rb rupiah dan itu buatan china. Sedangkan pemerintah berkeinginan agar STB dapat di buat oleh industri awak dewek biarpun dengan harga yang sedikit lebih mahal (maksudnya duitnya biar muter di sini aja kali ya).

    Nah di Singapore untuk pengelola TV Digital berbeda dengan pemilik konten. Pemilik konten itu seperti RCTI dan Teman2.

    Kalau apa yang disebut dengan bung semmy benar, saya pribadi sanagt setuju kalo bisa 50rb paling mahal biar golongan bawah bisa dapat hiburan dan harus FTA.

    Kalo tidak salah saat ini yang sedang trial siaran digital ada RCTI, TVRI, SCTV, dan TPI dengan menggunkan 1 channel (Kalo tidak salah lagi menggunakan kanal 34).

  15. eko_bali says:

    setelah saya cari di embaah gogle beritanya ada di
    http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/15/telkom/3385500.htm

    ada info tambahan juga singapore akan menutup seluruh siaran analognya pada tahun 2012 di daratan eropa malah lebih dulu tapi secara bertahap.

  16. maihardi@yahoo.com says:

    bro, itu hanya masalah waktu sj, he he, mmg spt bung bilang harga decoder bisa mencapai 300rb, itu kalo udah di produksi masal, sy di btm, pernah mau beli decoder utk tv5 spore, tapi melihat harganya 1.5jt, g’ jadi sy beli, di jakarta pun sudah ada yg jual tapi masih sama. Secara teknis industri mmg harganya bisa mencapai 200rb kalo sudah di produksi secara masal (kayak decoder fta sekarang sudah ada yg 200rb), dulu ingat waktu perpindahan parabola analog ke digital?, berapa harga decoder waktu itu??, kayaknya setelah 10th baru bisa mencapai harga barang yg sesungguhnya

  17. hilmi says:

    Sepertinya blom ada tuh di INA….kebetulan saya bekerja di perusahaan pembuat SET TOP BOX….saya coba searching tidak ada.
    saya cek situs TVRI yg katanya lagi trial di chanel 34,juga ga ada.
    saya tinggal di bekasi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: